RSS

Misteri 1 Ramadan dan 1 Syawal yang belum terjawab

30 Agu

Artikel ini sengaja saya tulis agar menjadi bahan renungan untuk kita bersama dalam menuju kemenangan yang hakiki tanpa saling melukai. Bagi teman-teman yang sudah merayakan hari raya Idul Fitri 1432 H. saya ucapkan Minal ‘Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Setiap tahun Ramadan selalu diwarnai dengan fenomena perbedaan awal Ramadan. Fenomena itu kemudian berlanjut dengan perdebatan akhir Ramadan, yang menjadi penentu perayaan Idul Fithri (baca: Hari Raya Lebaran).ya i

Mungkin ini perkara sepele tapi mengandung pesan terselubung yang tidak sepele. Perbedaan itu menjadi semacam cermin persatuan umat yang tidak utuh. Juga menjadi cermin ‘ketidaktuntasan’ upaya para ilmuwan falaq untuk menjawab persoalan klasik yang hampir muncul setiap tahun itu.

Jika memang persoalannya adalah sistem matematika penanggalan lantas mengapa penanggalan sistem masehi (matahari) tidak pernah memicu keributan, mengapa???…. Seumur-umur belum pernah saya dengar ada perdebatan tentang tanggal 1 Januari yang menjadi awal Tahun Baru.

Pertanyaan introspektif yang kemudian juga ingin saya kemukakan, yaitu mengapa tak terjadi perdebatan yang serupa pada setiap awal tahun baru Hijriah pada setiap 1 Muharram? Bukankah penetapan tanggal 1 Muharram akan menjadi titik krusial dalam penetapan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal? Logikanya, jika tanggal 1 Muharram bergeser satu hari maka 1 Ramadan dan 1 Syawal pun akan bergeser satu hari. Begitu bukan?

Logika lain, mungkinkah sebuah Ramadan memiliki jumlah hari yang berbeda-beda: Mial satu pihak menyebut 29 hari, pihak lain menyebut 30 hari. Memang, ada sebuah hadits Rasul yang mengakomodir perbedaan itu:

“Berpuasalah karena melihatnya, dan berhari rayalah karenanya. Dan kalau ia tersamar dari pandanganmu maka genapkanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari [1909]).

Saya pernah membaca sebuah tulisan yang menyebutkan bahwa ada beberapa alasan yang menyebabkan program penanggalan hijriah tidak bisa 100 persen akurat seperti halnya program penanggalan masehi.

Pertama, kalender hijriah dihitung berdasarkan rotasi bulan yang berlawanan dengan rotasi matahari. Pada sistem kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 (tengah malam) waktu setempat. Namun pada sistem kalender Hijriyah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Berbeda dengan siklus sinodik matahari yang konstan, siklus sinodik bulan relatif bervariasi.

Kedua, jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari akan terjadi jika bulan baru (new moon) berada di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara itu, bulan yang berusia 29 hari akan terjadi jika bulan baru berada di titik perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Karena itu, bisa disimpulkan bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 – 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari). Artinya, Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal yaitu nampakan bulan sabit pertama.

Jujur, sebagai muslim saya kurang puas dengan alasan tersebut di atas. Pertanyaan yang paling mendasar adalah jika urusan yang krusial seperti awal Ramadan, awal Idul Fithri, dan hari Idul Adha didasarkan pada sistem penanggalan yang sementara ini “divonis” memiliki ritme rotasi yang tidak tetap maka saya menyimpulkan bahwa pasti ada “teka-teki besar” yang belum mampu dijawab oleh kalangan astronom muslim.

Pertanyaan nakal yang juga tiba-tiba melompat dari kepala saya adalah: Apa iya Tuhan menciptakan sebuah sunnah (sistem penghitungan) kalender hijriah yang justru sering membuat bingung umat Islam akibat fenomena-fenomena perbedaan tanggal 1 Ramadan dan 1 Syawal itu? Rasanya tidak, sepertinya ada yang belum sempurna dengan metodologi ilmiah yang selama ini digunakan sebagai kaidah astro-matematika untuk menyusun kalender hijriah tersebut.

Jujur (lagi), karena saya bukan astronom dan juga bukan ahli falaq maka melalui tulisan ini saya hanya bisa berharap: Mr Mr tolong hadirkan kepada saya atau kami semua sebuah hitungan astro-matematis yang bisa menafikan perbedaan 1 Ramadan dan 1 Syawal itu.

Akhirnya, jika di antara kalian ada yang memiliki kompetensi dalam bidang ini, mohon penjelasan yang simpel dan memuaskan. Apabila ada tulisan yang kurang berkenan dan salah kaprah mohon di maafkan dan di koreksi.

jazakumullah khoiron katsiran

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 30, 2011 in Renungan

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: